Codex Gigas, Alkitab Iblis
![]() |
| Codex Gigas. (eriricaldo.com) |
Codex Gigas atau Buku Raksasa adalah sebuah manuskrip abad pertengahan dengan ukuran terbesar yang masih ada. Buku ini ditulis pada awal abad ke-13 di Biara Ordo Benediktus di Podlazice – Bohemia. Saat ini buku tersebut tersimpan di Swedish Royal Library di Stockholm. Dibutuhkan tenaga dua pustakawan untuk mengangkat buku tersebut. Buku ini sering juga disebut “Alkitab Iblis” karena adanya sebuah ilustrasi ukuran besar bergambar setan didalamnya.
Codex tersebut ditaruh disebuah tempat yang terbuat dari kayu, dilapisi dengan kulit dan dihias dengan logam. Tingginya 92 cm, lebarnya 50 cm dan memiliki tebal 22 cm. Pada mulanya, Codex itu memiliki 320 lembar naskah. Namun 8 lembar darinya dibuang. Tidak diketahui siapa yang membuang 8 lembar tersebut dan untuk tujuan apa. Ada dugaan 8 lembar yang dibuang kemungkinan berisi aturan-aturan Biara Ordo Benediktus. Berat Codex tersebut hampir mencapai 75 kg. Lembaran yang digunakan untuk menulis Codex ini adalah kulit yang berasal dari 160 ekor anak sapi.
Biara tempat Codex ini dibuat, dihancurkan pada abad ke-15. Catatan yang ada pada Codex menunjukkan bahwa pembuatan Codex tersebut adalah sekitar tahun 1229 M. Setelah penulisannya, Codex ini kemudian dipindahkan ke Biara Cistercians Sedlec dan akhirnya dibeli oleh Biara Benediktus di Byoevnov. Dari tahun 1477-1593, Codex ini disimpan di perpustakaan di Broumov sampai akhirnya dibawa ke Praha pada tahun 1594 untuk menjadi bagian dari koleksi Rudolf II. Pada tanggal 24 September 2007, Codex Gigas dibawa kembali ke Praha setelah 359 tahun.
Isi dari Codex ini adalah “a sum of the Benedictine order’s knowledge”, “The War of the jews” tulisan Josephus, daftar para orang kudus, metode untuk menentukan tanggal perayaan paskah, seluruh alkitab bahasa latin pre-vulgate, Isidore of Seville’s encyclopedia Etymologiae, Cosmas of Prague’s Chronicle of Bohemia, berbagai macam traktat (dari sejarah, etimologi dan fisiologi), sebuah kalender dengan nekrologium, daftar nama para biarawan di biara Podlaice, formula-formula ajaib dan catatan-catatan lain.
Pada halaman 290, terdapat sebuah gambar Iblis dengan tinggi sekitar 50 cm. Beberapa halaman sebelum gambar ini ditulis pada lembaran kulit yang menghitam dan dibuat dengan karakter yang gelap, yang membuatnya berbeda dengan keseluruhan isi Codex.
Menurut Legenda, penulis Codex itu adalah seorang biarawan yang melanggar aturan biara dan dihukum dengan diikat di dinding dalam posisi berdiri seumur hidup. Biarawan ini memohon ampunan dari penghukuman yang luar biasa kejam itu. Sebagai gantinya ia berjanji untuk membuat sebuah buku yang akan memuliakan biara dan pengetahuan umat manusia selamanya, dan ia berjanji menyelesaikannya hanya dalam satu malam.
Menjelang tengah malam, biarawan itu menjadi ragu apakah ia dapat menyelesaikannya sendiri. Jadi ia menjual jiwanya kepada iblis demi sebuah pertolongan. Iblis kemudian menyelesaikan manuskrip tersebut. Sebagai penghormatan kepada iblis yang membantunya, biarawan itu menambahkan gambar iblis ke dalam Codex tersebut. Walaupun adanya legenda yang melibatkan iblis, pada zaman inkuisisi, Codex ini tetap disimpan oleh biara dan dipelajari oleh banyak cendikiawan sampai hari ini.(Sumber: eriricaldo.com)
'Peluru kita banyak, ayo ganyang Malaysia!'
![]() |
| Soekarno. (Merdeka.com) |
Sebelumnya, Malaysia juga telah beberapa kali mengakui kebudayaan asli Indonesia. Sebut saja, Tari Pendet, alat musik Angklung, Kain Ulos, Lagu Jali-Jali, Motif Batik Parang dan lain sebagainya. Catatan Gerakan Sejuta Data Budaya, klaim Malaysia atas budaya Indonesia kali ini adalah yang ke-23.
Jika melihat sejarah, hubungan Malaysia dan Indonesia pernah memasuki fase-fase terburuk. Pada tahun 1962, Indonesia sempat berkonfrontasi dengan Malaysia. Penyebabnya, Malaysia hendak menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan Persetujuan Manila.
Hal itu sontak mendapat penolakan dari Presiden Soekarno. Pemimpin besar revolusi itu bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk neo-kolonialisme dan imperialisme gaya baru yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia.
Dengan lantang, sang proklamator saat itu menyebut Malaysia sebagai boneka Inggris dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Britania di kawasan tersebut.
Sikap keras Presiden Soekarno ditanggapi demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 September 1963. Saat itu massa menyerbu KBRI merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Menteri Malaysia kala itu, Tuanku Abdul Rahman dan memaksanya untuk menginjak salah satu simbol negara Indonesia itu.
Sementara di Indonesia, gelombang ketidaksenangan terhadap Malaysia terus berkecamuk. Demonstrasi di dalam negeri pun merebak.
Dalam buku 'Indonesian Communism Under Soekarno', massa Partai Komunis Indonesia (PKI), yang saat itu dekat dengan kekuasaan Presiden Soekarno, menjadi yang terdepan dalam demonstrasi. Poster-poster anti-Malaysia memenuhi Jakarta dan kota-kota besar lainnya, seperti Medan dan Surabaya.
Tepatnya pada 16 September 1963, demonstrasi raksasa yang digalang massa PKI menyerbu kantor Kedutaan Besar Inggris dan Malaya di Jakarta. Unjuk rasa itu membuat kerusakan yang luar biasa. Sehari setelahnya, Malaysia memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia dan di Kuala Lumpur juga berlangsung kontra-demonstrasi.
Amarah Presiden Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. Soekarno tak terima demonstrasi anti-Indonesia di Malaysia menginjak-injak lambang negara Indonesia. Bung Karno akhirnya menyerukan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk mengganyang Malaysia.
Berikut pidato ganyang Malaysia yang diserukan Bung Karno kala itu.
"Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu itu juga biasa. Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganyang...Ganyang... Malaysia Ganyang... Malaysia
Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satu-satu!". (Six News and Sport/ Sumber: Merdeka.com)
Shinji Kagawa, The Nex Park Ji Shung
![]() |
| Shinji Kagawa (IST) |
Manchester United mengumumkan telah tercapai kesepakatan antara Borussia Dortmund dan Shinji Kagawa untuk transfer ke klub. Kesepakatan ini tinggal menunggu tes medis pemain dan ijin kerja di Britania Raya yang akan diselesaikan pada akhir Juni," demikian pernyataan dari pihak klub, Rabu (6/6).
Namun mendaratnya Kagawa ke Old Trafford bisa dibilang menjadi penerus legiun pemain Benua Kuning. Setelah era keemasan Park ji-Sung berakhir, setidaknya ada Shinji Kagawa yang mewakili pemain Asia mendapat kesempatan langka bermain dengan tim sekaliber MU. Sinyalemen Kagawa memperkuat MU musim depan setidaknya mengindikasikan ekspektasi MU terhadap pemain dari kawasan Asia tidak pernah memudar. Setelah mendapatkan Ji-Sung dari PSV Eindhoven pada 2005 silam, MU tidak pernah berhenti memonitor pemain dari Asia.
Pelatih MU, Alex Ferguson rela terbang ke Jerman untuk menyaksikan Kagawa dari dekat saat membantu Dortmund meraih trofi DFB Pokal. Publik Samurai Biru pun boleh bangga. Dari sekian banyak pemain Jepang, hanya Kagawa seorang yang dilirik Ferguson hingga akhirnya mendapat kontrak dari MU. Dan tidak sedikit rekan kompatriotnya yang mendambakan pencapaian Kagawa. Keisuki Honda salah satunya.
Meski banyak pihak yang menilai, kedatangan Kagawa ke Old Trafford untuk dongkrak popularitas MU di Asia untuk menancapkan brand di segmen pasar Asia seiring dengan kontrak Ji-Sung yang akan berakhir pada Juni 2013 mendatang, namun hal itu dibantahan keras dari Direktur Pemasaran MU, Richard Arnold. Ia mengatakan, MU tidak pernha membeli pemain untuk menjual kostum.
"Kami bergantung kepada 25 pemain dan mereka semua pemain bintang. Jika Anda lihat sukses kami di benua lain, itu bukan karena satu pemain. Bagi MU, ini lebih dari sekedar satu pemain. Lebih dari seorang George Best, lebih dari Bryan Robson, lebih dari David Beckham, Eric Cantona, dan juga Park Ji Shung," ujar Arnold seperti dilansir BBC.
Bahkan dikabarkan, jika Kagawa akan memakai nomor punggung 7. Kagawa akan menjadi penerus nomor punggung 7 di Manchester United setelah era Cantona, Beckham, Ronaldo, dan Owen. Lalu apakah Kagawa akan sukses seperti para pendahulunya? Entalah, masih terlalu dini untuk memberikan penilaian kepada pemain 23 tahun itu. Yang pasti tak mudah menjadi penerus kostum ‘keramat’ milik MU. Pemain sekelas Micahel Owen pun tak mampu mengembalikan magic Nomor 7 pasca kepergian Christiano Ronaldo ke Real Madrid tahun 2009 lalu.
Namun yang pasti, kehadiran Kagawa diharapkan dapat menambah kuat lini tengah tim asuhan Sir Alex Ferguson tersebut. Kagawa bahkan dinilai berpotensi menjadi bintang "Setan Merah" dan meneruskan kesuksesan pendahulunya dari Asia, Park Ji Shung. (Jh: Dari Berbagai Sumber)
Magnificent Seven From Old Trafford
Penilaian tersebut tentu tidak berlebihan, langka adanya sebuah bola yang dilambungkan begitu indah dan mendarat tepat dan nyaman pada sasaran yang dituju. Hanya pemain bertalenta tinggi dan menjalani latihan yang berat yang dapat mencapai kesempurnaan itu. David Beckham, pemain United yang menggunakan kostum nomor punggung. 7 saat itu, diakui sebagai seniman yang sangat luar biasa terutama dalam mengirimkan operan matang dan freekick maut.
Dan tentu, siapa saat ini yang tidak kenal David Beckham, dengan tampang tampan dan gaya stylishnya, ia menjelma menjadi icon Manchester United dan menyihir jutaan pemujanya. Beristrikan Posh Spice, David Beckham bahkan mungkin lebih terkenal dari Ratu Elizabeth, sehingga Real Madrid tidak berpikir panjang untuk mengeluarkan uang 15 juta pounds pada tahun 2003 untuk membawanya ke Bernabeau. Meski mungkin suatu hal yang akhirnya mungkin menjadi sebuah penyesalan bagi sang pemain itu sendiri.
David Bechkham sebenarnya bukalah satu-satunya pemain United yang gemilang dengan nomor punggung 7. Sebelum David Beckham, pemakai No. 7 lainnya yang terlebih dahulu populer dan menjadi pujaan publik Old Trafford adalah Eric “The King” Cantona, sang maestro asal Perancis yang dianggap fans United sebagai mesiah atau juru selamat itu yang membawa ‘Iblis Merha’ ke era kejayaan.
Berlebihan? Tidak kiranya, Eric Cantona adalah seorang pemain depan berkemampuan komplit dengan visi jenius. Saat Cantona memasuki lapangan saja, aura sekelilingnya sangat luar biasa, dengan stylenya yang khas yaitu kerah baju diangkat ke atas, ia terlihat anggun bahkan mungkin mendekati angkuh, tapi juga mendominasi. Cantona selain konsisten mencetak gol, ia juga playmaker yang sangat piawai, bak seorang pemimpin orkestra memimpin rekan-rekannya memborbardir pertahanan lawan.
Prestasinya tak usah ditanya, dua kali “double” EPL dan FA Cup sudah merupakan jaminan menterengnya. Keputusannya untuk pensiun diratapi oleh semua fans United di dunia ini tanpa terkecuali, seakan-akan anak ayam kehilangan induknya. Beruntunglah Class of’92, yang salah satunya adalah Beckham, mendapatkan kesempatan merasakan daya magis Cantona secara langsung.
Setelah era Cantona dan Beckham, penerus nomor. 7 berikutnya adalah Chistiano Ronaldo, sebelum hijra ke Real Madrid. Pemuda asal Madeira, Portugall itu saat pertama kali melakukan debut Unitednya masih berusia 18 tahun, namun langsung memberikan sebuah peragaan karya seni nan indah pada publik Old Trafford yang cemas bercampur penasaran.
Kedua kaki bocah Portugal itu seakan mempunyai nyawa dan pikiran sendiri, bergerak lincah memainkan berbagai trik pada bola dan dengan campuran kecepatannya yang tidak bisa dipercaya akal sehat, menipu lawan di depannya. Pemain bertahan Bolton yang dijadikan lawan saat debut, dibuatnya kocar kacir dan seakan belum pernah belajar bermain sepakbola. Ia juga sukses memenangkan taruhan jumlah gol semusim dengan Sir Alex Ferguson dengan mencetak 15 gol untuk United hanya dalam separuh musim saja.
Sayangnya kepergian CR7 ke Real Madrid ditahun 2009 mambuat nomor 7 ‘Setan Merah’ kehilangan sentuhan magic nya. Michael Owen yang dipercaya mengenakan nomor keramat itu tak bisa meneruskan keangkeran nomor 7 pendahulunya. Sudah tiga musim nomor ‘keramat’ milik Manchester United mati suri. Tak angker dan tak lagi jadi momok bagi lawan. Publik Old Trafford dan seluruh pendukung MU berharap dimusim depan, nomor punggung 7 kembali bisa menemukan pemilik yang sebenarnya dan meneruskan apa yang telah dilakukan pendahulunya.
Eric Cantona, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo, ketiga pemain ini mempunyai beberapa kesamaan. Mereka adalah pemain bertalenta tinggi dengan skill tinggi nan indah yang mampu mempesona publik. Ke-3 pemain ini, bagi MU adalah pemain yang sangat penting di masanya masing-masing. Ke-3 pemain inilah yang atau pernah mengenakan seragam keramat United No. 7 atau disebut juga Magnificent Seven.
Berbeda dengan klub2 sepakbola umumnya, di United, No. 7 dianggap sebagai nomor keramat dibandingkan nomor lainnya bahkan nomor 10 sekalipun. Bagi para fans United, pemakai No. 7 haruslah seseorang yang mampu mengubah permainan tim dan membawa kemenangan. Bila dirunut dari mantan No. 7 sebelum Eric Cantona seperti Bryan Robson, Steve Coppell,Willie Morgan, dan George Best. Stigma No. 7 sebagai nomor keramat mungkin dapat dimengerti. (Six News and Sport/ Dari Berbagai Sumber)
Sejarah Panjang “Setan Merah” Menjadi Raksasa Eropa
Meski sejak dulu MU termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, Namun tahun 1993 barulah Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson. Dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool FC pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan dua belas kali merebut trofi juara.
Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008). Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 22 trofi besar. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. MU telah memenangi 19 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea di final.
MU juga memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali. Ditahun 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA. Pada 12 Mei 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer menjadi pemilik klub dengan membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar) diikuti dengan banyak protes dari para pendukung fanatik.
Tahun 1902 menjadi masa-masa sulit bagi Manchester United, klub tang berjuluk “The Red Devils” itu nyaris bangkrut, dengan utang lebih dari £2500. Lapangan Bank Street mereka telah ditutup. Sebelum tim mereka bubar, mereka menerima investasi dari J. H. Davies, direktur Manchester Breweries. Awalnya, seorang legenda tim, Harry Stafford, yang merupakan kapten tim, memamerkan anjing St. Bernardnya, kemudian Davies memutuskan untuk membeli anjing itu. Stafford menolak, tetapi berhasil memengaruhi Davies untuk menanamkan modal pada tim dan menjadi chairman tim. Lalu diadakan rapat untuk mengganti nama perkumpulan. Manchester Central dan Manchester Celtic adalah nama yang diusulkan, sebelum Louis Rocca, seorang imigran muda asal Italia, berkata "Tuan-tuan, mengapa kita tidak menggunakan nama Manchester United?". Nama ditetapkan dan Manchester United secara resmi eksis mulai 26 April 1902.
Davies juga memutuskan untuk mengganti warna tim dan terpilihlah warna merah dan putih sebagai warna tim Manchester United. Ernest Mangnall ditunjuk menjadi sekretaris klub menggantikan James West yang mengundurkan diri pada tanggal 28 September 1902. Mangnall bekerja keras untuk mengangkat tim ke Divisi Satu dan gagal pada upaya pertamanya, menempati urutan 5 Liga Divisi Dua.
Mangnall memutuskan untuk menambah sejumlah pemain ke dalam klub dan merekrut pemain seperti Harry Moger, Dick Duckworth, dan John Picken, ada juga Charlie Roberts yang membuat dampak besar. Dia dibeli £750 dari Grimsby Town pada April 1904, dan membawa tim ke posisi tiga klasmen akhir musim 1903-1904. Mereka kemudian berpromosi ke Divisi Satu setelah finis diurutan dua Divisi Dua musim 1905–06.
Musim pertama mereka di Divisi Satu berakhir kurang baik, mereka menempati urutan 8 klasmen. Akhirnya mereka memenangkan gelar liga pertamanya pada tahun 1908. Manchester City sedang diselidiki karena menggaji pemain diatas regulasi yang ditetapkan FA. Mereka didenda £250 dan delapan belas pemain mereka dihukum tidak boleh bermain untuk mereka lagi. Manchester United dengan cepat mengambil kesempatan dari situasi ini, merekrut Billy Meredith, Sandy Turnbull, dan lainnya. Pemain baru ini tidak boleh bermain dahulu sebelum tahun Baru 1907, akibat dari skors dari FA. Mereka mulai bermain pada musim 1907–08 dan United membidik gelar juara saat itu.
Kemenangan 2–1 atas Sheffield United memulai kemenangan beruntun sepuluh kali United. Namun pada akhirnya, mereka tutup musim dengan keunggulan 9 poin dari rival mereka, Aston Villa. Klub membutuhkan waktu dua tahun untuk membawa trofi lagi, mereka memenangkan trofi Liga Divisi Satu untuk kedua kalinya pada musim 1910–11. United pindah ke lapangan barunya Old Trafford. Mereka memainkan pertandingan pertamanya di Old Trafford pada tanggal 19 Februari 1910 melawan Liverpool, tetapi mereka kalah 4-3.
Mereka tidak mendapat trofi lagi pada musim 1911–12, mereka tidak didukung oleh Mangnall lagi karena dia pindah ke Manchester City setelah 10 tahunnya bersama United. Setelah itu, mereka 41 tahun bermain tanpa memenangkan satu trofi pun. United kembali terdegradasi pada tahun 1922 setelah sepuluh tahun bermain di Divisi Satu. Mereka naik divisi lagi tahun 1925, tetapi kesulitan untuk masuk jajaran papan atas liga Divisi Satu dan mereka turun divisi lagi pada tahun 1931. United meraih mencapaian terendah sepanjang sejarahnya yaitu posisi 20 klasemen Divisi Dua 1934. kekuatan mereka kembali ketika musim 1938–39.
Era Sir Matt Busby dan Tragedi Munchen
Pada tahun 1945, Matt Busby ditunjuk menjadi manager dari tim yang berbasis di Old Trafford ini. Dia meminta sesuatu yang tidak biasa pada pekerjaannya, seperti menunujuk tim sendiri, memilih pemain yang akan direkrut sendiri dan menentukan jadwal latihan para pemain sendiri. Dia telah kehilangan lowongan manager di klub lain, Liverpool F.C., karena pekerjaan yang diinginkannya itu dirasa petinggi Liverpool adalah pekerjaan seorang direktur, tetapi United memberikan kesempatan untuk ide inovatifnya.
Pertama, Busby tidak merekrut pemain, melainkan seorang asisten manager yang bernama Jimmy Murphy. Keputusan menunjuk Busby sebagai manager merupakan keputusan yang sangat tepat, Busby membayar kepercayaan pengurus dengan mengantar United ke posisi kedua liga pada tahun 1947, 1948 and 1949 dan memenangkan Piala FA tahun 1948. Stan Pearson, Jack Rowley, Allenby Chilton, dan Charlie Mitten memiliki andil yang besar dalam pencapaian United ini.
Charlie Mitten pulang ke Colombia untuk mencari bayaran yang lebih baik, tetapi kemampuan pemain senior United tidak menurun dan kembali meraih gelar Divisi Satu pada 1952. Busby tahu, bahwa tim sepak bola tidak hanya membutuhkan pengalaman pemainnya, maka, dia juga berpikir untuk memasukkan beberapa pemain muda. Pertama-tama, pemain muda seperti Roger Byrne, Bill Foulkes, Mark Jones dan Dennis Viollet, membutuhkan waktu untuk menunjukkan permainan terbaik mereka, akibatnya United tergelincir ke posisi 8 pada 1953, tetapi tim kembali memenangkan liga tahun 1956 dengan tim yang usia rata-rata pemainnya hanya 22 tahun, mencetak 103 gol.
Kebijakan tentang pemain muda ini mengantarkannya menjadi salah satu manager yang paling sukses menangani Manchester United (pertengahan 1950-an, pertengahan akhir 1960-an dan 1990-an). Busby mempunyai pemain bertalenta tinggi yang bernama Duncan Edwards. Pemuda asal Dudley, West Midlands memainkan debutnya pada umur 16 tahun di 1953. Edwards dikatakan dapat bermain di segala posisi dan banyak yang melihatnya bermain mengatakan bahwa dia adalah pemain terbaik. Musim berikutnya, 1956–57, mereka menang liga kembali dan mencapai final Piala FA, kalah dari Aston Villa.
Mereka menjadi tim Inggris pertama yang ikut serta dalam kompetisi Piala Champions Eropa, atas kebijakan FA. Musim lalu, FA membatalkan hak Chelsea untuk tampil di Piala Champions. United dapat mencapai babak semi-final dan kemudian dikandaskan Real Madrid. Dalam perjalanannya ke semi-final, United juga mencatatkan kemenangan yang tetap menunjukkan bahwa mereka adalah tim besar, mengalahkan tim juara Belgia Anderlecht 10–0 di Maine Road.
Tragedi terjadi pada musim berikutnya, ketika pesawat membawa tim pulang dari pertandingan Piala Champions Eropa mengalami kecelakaan saat mendarat di München, Jerman untuk mengisi bahan bakar. Tragedi München 1958 tanggal 6 Februari 1958 merenggut nyawa 8 pemain tim - Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Duncan Edwards, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor dan Liam "Billy" Whelan - dan 15 penumpang lainnya, termasuk beberapa staf United, Walter Crickmer, Bert Whalley dan Tom Curry. Terjadi 2 kali pendaratan sebelum yang ketiga terjadi kesalahan fatal, yang disebabkan tidak stabilnya kecepatan pesawat karena adanya lumpur.
Penjaga gawang United Harry Gregg mempertahankan kesadaran saat kecelakaan itu dan dibawah ketakutan pesawat akan meledak, menyelamatkan Bobby Charlton dan Dennis Viollet dengan mengencangkan sabuk pengamannya. Tujuh pemain United menginggal dunia di tempat sedangkan Duncan Edwards tewas ketika perjalanan menuju rumah sakit. Sayap kanan Johnny Berry juga selamat dari kecelakaan itu, tetapi cedera membuat karier sepak bolanya berakhir cepat. Dokter München mengatakan bahwa Matt Busby tidak memiliki banyak harapan, namun ia pulih dengan ajaibnya dan akhirnya keluar dari rumah sakit setelah dua bulan dirawat di rumah sakit.
Ada rumor bahwa tim akan mengundurkan diri dari kompetisi, namun Jimmy Murphy mengambil alih posisi manager ketika Busby dirawat di rumah sakit, klub melanjutkan kompetisinya. Meskipun kehilangan pemain, mereka mencapai final Piala FA 1958, dimana mereka kalah dari Bolton Wanderers. Akhir musim, UEFA menawarkan FA untuk dapat mengirimkan United dan juara liga Wolverhampton Wanderers untuk berpartisipasi di Piala Champions untuk penghargaan kepada para korban kecelakaan, namun FA menolak.
Dimusim berikutnya United menekan Wolves dan sukses menyelesaikan liga di posisi kedua klasemen. Tidak buruk untuk sebuah tim yang kehilangan sembilan pemain akibat Tragedi München. Busby membangun kembali tim di awal dekade 60-an, membeli pemain seperti Denis Law dan Pat Crerand. Mungkin orang yang paling terkenal dari sejumlah pemain muda ini adalah pemuda Belfast yang bernama George Best. Best memiliki keatletikkan yang sangat langka.
Tim memenangkan Piala FA tahun 1963, walaupun hanya finis diurutan 19 Divisi Satu. Keberhasilan di Piala FA membuat pemain menjadi termotivasi dan membuat klub terangkat pada posisi kedua liga tahun 1964, dan memenangkan liga tahun 1965 dan 1967. United memenangkan Piala Champions Eropa 1968, mengalahkan tim asuhan Eusébio SL Benfica 4–1 dipertandingan final, menjadi tim Inggis pertama yang memenagkan kompetisi ini. Tim United saat itu memiliki Pemain Terbaik Eropa, yaitu: Bobby Charlton, Denis Law and George Best. Matt Busby mengundurkan diri pada tahun 1969 dan digantikan oleh pelatih tim cadangan, Wilf McGuinness.
Masa-masa Sulit
Setelah masa yang gemilang, United mengalami masa-masa sulit ketika ditangani Wilf McGuinness, selesai diurutan delapan liga pada musim 1969–70. Kemudian dia mengawali musim 1970–71 dengan buruk, sehingga McGuinness kembali turun jabatan menjadi pelatih tim cadangan. Busby kembali melatih United, walaupun hanya 6 bulan. Dibawah asuhan Busby, United mendapat hasil yang lebih baik, namun pada akhirnya ia meninggalkan klub pada tahun 1971. Dalam waktu itu, United kehilangan beberapa pemain kuncinya seperti Nobby Stiles dan Pat Crerand.
Manager Celtic yang berhasil membawa Piala Champions ke Glasgow, Jock Stein, ditunjuk untuk mengisi posisi manager — Stein telah menyetujui kontrak secara verbal dengan United, tetapi membatalkannya — . Frank O'Farrell ditunjuk sebagai suksesor Busby. Seperti McGuinness, O'Farrell tidak bertahan lebih dari 18 bulan, bedanya hanya O'Farrell bereaksi untuk menanggulangi penampilan buruk dari United dengan membawa muka baru ke dalam klub, yang paling nyata adalah direkrutnya Martin Buchan dari Aberdeen seharga £125,000. Tommy Docherty menjadi manager diakhir 1972.
Docherty, atau "Doc", menyelamatkan United dari degradasi namun United terdegradasi pada 1974, yang saat itu trio Best, Law and Charlton telah meninggalkan klub. Denis Law pindah ke Manchester City pada musim panas tahun 1973. Pemain seperti Lou Macari, Stewart Houston dan Brian Greenhoff direkrut untuk menggantikan Best, Law and Charlton, namun tidak menghasilkan apa-apa.
Tim meraih promosi pada tahun pertamanya di Divisi Dua, dengan peran besar pemain muda berbakat Steve Coppell yang bermain baik pada musim pertamanya bersama United, bergabung dari Tranmere Rovers. United mencapai Final Piala FA tahun 1976, tetapi mereka dikalahkan Southampton. Mereka mencapai final lagi tahun 1977 dan mengalahkan Liverpool 2–1. Didalam kesuksesan ini, Docherty dipecat karena diketahui memiliki hubungan dengan istri fisioterapi.
Dave Sexton menggantikan Docherty di musim panas 1977 dan membuat tim bermain lebih defensif. Gaya bermain ini tidak disukai suporter, mereka lebih menyukai gaya menyerang Docherty dan Busby. Beberapa pemain dibeli Sexton seperti Joe Jordan, Gordon McQueen, Gary Bailey dan Ray Wilkins, namun tidak dapat mengangkat United menembus ke papan atas, hanya sekali finis diurutan kedua, dan hanya sekali lolos ke babak final Piala FA, dikalahkan Arsenal. Karena tidak meraih gelar, Sexton dipecat pada tahun 1981, walaupun ia memenangkan 7 pertandingan terakhirnya.
Dia digantikan manager flamboyan Ron Atkinson. Dia memecahkan rekor transfer di Inggris dengan membeli Bryan Robson dari West Brom. Robson disebut-sebut merupakan pemain tengah terbaik sepeninggal Duncan Edwards. Tim Atkinson memiliki pemain baru seperti Jesper Olsen, Paul McGrath dan Gordon Strachan yang bermain bersama Norman Whiteside dan Mark Hughes. United memenangkan Piala FA 2 kali dalam 3 tahun, pada 1983 dan 1985, dan diunggulkan untuk memenangkan liga musim 1985–86 setelah memenangkan 10 pertandingan liga pertamanya, membuka jarak 10 poin dengan saingan terdekatnya sampai Oktober 1986.
Penampilan United kemudian menjadi buruk dan United mengakhiri musim di urutan 4 klasemen. Hasil buruk United terus berlanjut sampai akhir musim dan dengan hasil yang buruk yaitu diujung batas degradasi, pada November 1986, Atkinson dipecat. Setelah itu United merekrut pelatih baru, yaitu Sir Alex Ferguson.
Era Alex Ferguson
Alex Ferguson datang dari Aberdeen untuk menggantikan Atkinson dan mengantarkan klub meraih posisi 11. Musim berikutnya yaitu musim 1987–88, United menyelesaikan liga di posisi kedua, dengan Brian McClair yang menjadi pencetak 20 gol liga setelah George Best. United mengalami masa sulit dua musim berikutnya. Dengan pembelian pemain yang cukup banyak, Ferguson tidak dapat memenuhi harapan suporter.
Alex Ferguson telah berada dalam bahaya pemecatan pada awal 1990, tetapi sebuah gol dari Mark Robins membawa United menang 1–0 atas Nottingham Forest dibabak ketiga Piala FA. Ini membuat Ferguson terselamatkan dan pada akhirnya United memenangkan Piala FA, setelah mengalahkan Crystal Palace di partai ulang babak final.
United memenangkan Winners' Cup Eropa di 1990–91, mengalahkan juara Spanyol musim itu, Barcelona di final, tetapi mengecewakan di musim berikutnya karena di liga mereka kalah dari saingan, Leeds United. Kedatangan Eric Cantona di November 1992 merupakan sebuah langkah krusial United saat itu. Cantona membaur bersama pemain dan memenangkan Final Piala FA menjadikan MU menjadi juara dua di liga dan Piala FA.
Ferguson membuat suporter kesal karena menjual beberapa pemain Beberapa dari mereka langsung terpilih menjadi anggota Tim nasional sepak bola Inggris. Secara mengejutkan, United kembali meraih double pada musim 1995–96. Ini adalah pertama kalinya klub Inggris meraih double sebanyak dua kali dan akhirnya mereka mendapat sebutan "Double Double". Mereka memenangkan liga musim 1996–97 dan Eric Cantona menyatakan pensiun dari persepak bolaan profesional pada usia 30. Mereka mengawali musim 1997–98 dengan baik, tetapi mengakhiri liga pada posisi dua klasemen, dibawah pemenang dua gelar, Arsenal.
Treble (1998–1999)
Musim 1998–99 untuk Manchester United adalah musim tersukses karena mereka berhasil menjadi satu-satunya tim Inggris yang pernah meraih Treble(tiga gelar dalam satu musim) — dengan memenangkan Liga Utama Inggris, Piala FA dan Liga Champion UEFA di musim yang sama. Setelah melewati Liga Utama yang padat, Manchester United berhasil memenangkan liga pada pertandingan terakhir melawan Tottenham Hotspur dengan skor 2–1, ketika Arsenal menang 1–0 atas Aston Villa. Memenangkan Liga Utama merupakan bagian pertama dari treble United, yang disebut Ferguson bagian tersulit.
Di final Piala FA mereka bertemu Newcastle United dan menang 2–0 melalui gol Teddy Sheringham dan Paul Scholes. Pada pertandingan terakhir mereka musim itu, pertandingan Final Liga Champions Eropa 1999, mereka mengalahkan Bayern Munich, pertandingan tersebut disebut-sebut sebagai comeback terbaik yang pernah ada, kalah sampai dengan injury time dan mencetak gol dua kali di menit-menit terakhir untuk memastikan kemenangan 2–1. Manchester United juga memenangkan Piala Interkontinental setelah mengalahkan Palmeiras 1–0 di Tokyo.
Setelah Treble (1999–sekarang)
Manchester United memenangkan liga tahun 2000 dan 2001, tetapi mereka gagal meraih kembali trofi kompetisi Eropa. Pada tahun 2000, Manchester United menjadi salah satu dari 14 pendiri kelompok G-14. Ferguson mengadopsi gaya permainan bertahan dan tetap gagal di kompetisi Eropa dan United menyelesaikan liga pada urutan ketiga klasemen. Mereka meraih kembali gelar liga musim berikutnya dan memulai musim dengan sangat baik, namun penampilan mereka memburuk ketika Rio Ferdinand menerima skorsing 8 bulan karena gagal dalam tes doping.
Mereka memenangkan Piala FA 2004, setelah mengalahkan Millwall. Musim 2004-05, produktivitas gol United berkurang, yang disebabkan oleh cederanya Ruud van Nistelrooy dan United menyelesaikan musim tanpa meraih satu gelar pun. Kali ini, Piala FA dimenangkan oleh Arsenal yang mengalahkan United melalui adu penalti. Di luar lapangan, cerita utamanya adalah kemungkinan klub diambil alih oleh pihak lain dan pada akhir musim, Malcolm Glazer, seorang pengusaha asal Tampa, telah memiliki kepemilikikan United.
United melakukan awal buruk pada musim 2005–06, dengan kepergian Roy Keane yang bergabung dengan Celtic setelah United banyak dikritik publik dan klub gagal melewati babak knock-out Liga Champions untuk pertama kalinya dalam satu dekade setelah kalah dari tim asal Portugal, Benfica. Musim ini adalah musim yang buruk bagi United karena pemain kunci mereka seperti, Gabriel Heinze, Alan Smith, Ryan Giggs dan Paul Scholes cedera.
Mereka hanya meraih satu gelar musim itu, Piala Liga, mengalahkan tim promosi Wigan Athletic dengan skor 4–0. United memastikan tempat di urutan kedua klasemen liga dan lolos otomatis ke Liga Champions setelah mengalahkan Charlton Athletic 4–0. Akhir musim 2005–06, satu dari penyerang kunci, Ruud van Nistelrooy, meninggalkan klub dan bergabung dengan Real Madrid, karena hubungannya dengan Alex Ferguson retak.
Musim 2006-07 memperlihatkan gaya permainan United yang menyerang seperti pada dekade 90-an, mencetak 20 gol lebih di 32 pertandingan. Pada Januari 2007, United mendapatkan Henrik Larsson dengan status pinjaman selama 2 bulan dari Helsingborgs, dan pemain itu memiliki pera penting dalam pencapaian United di Liga Champions, dengan harapan meraih Treble kedua; namun setelah mencapai babak semi-final, United kalah dari A.C. Milan 3–5(agregat).
Dalam perayaan ke-50 keikutsertaan Manchester United dalam kompetisi Eropa, dan juga perayaan ke-50 dari Treaty of Rome, Manchester United bertanding melawan Marcello Lippi dan tim Eropa XI di Old Trafford pada 13 Maret 2007. United memenangkan pertandingan 4–3. Empat tahun setelah gelar terakhir mereka, United meraih kembali gelar juara liga pada 6 Mei 2007, setelah Chelsea bermain imbang dengan Arsenal, meninggalkan the Blues tujuh poin di belakang dengan menyisakan 2 pertandingan, diikuti kemenangan United 1–0 dalam derbi Manchester hari sebelumnya, mengantarkan United ke gelar kesembilan Premiership-nya dalam 15 tahun eksistensinya. Namun, mereka tidak dapat mencapai double keempat mereka, karena Chelsea mengalahkan United 1-0 di final Piala FA 2007 yang berlangsung di Stadion Wembley yang baru.
Pada 11 Mei 2008, United kembali meraih gelar liga setelah mengalahkan Wigan 2-0 di pertandingan terakhir untuk memastikan gelar tersebut, disusul gelar Liga Champions pada tanggal 21 Mei 2008 yang diraih dengan mengalahkan Chelsea 6-5 di final melalui adu penalti setelah bermain seri 1-1 di waktu normal 2x45 menit serta perpanjangan waktu 2x15 menit. Dengan status sebagai juara Liga Champions tersebut, United berhak mengikuti Piala Dunia Antarklub FIFA 2008 dan berhasil menjuarai turnamen tersebut setelah mengalahkan Gamba Osaka 5-3 di semifinal dan LDU Quito 1-0 di final. United pun menjadi klub Eropa kedua yang menjadi juara dunia setelah AC Milan pada 2007.
Setahun setelah final Liga Champions UEFA tahun 2008, Manchester United masuk kembali ke final tahun 2009. Manchester United kemudian mengalami kekalahan dalam final Liga Champions UEFA 2008–09, saat menghadapi Barcelona dengan skor 2 – 0 di Roma, Italia. Musim 2009-10 bukanlah musim yang bagus, karena hanya mendapatkan gelar Piala Liga, hanya finis di posisi kedua, dan terdepak di Liga Champions oleh Bayern Munich. Musim selanjutnya United meraih titel juara liga teratas untuk ke-19 kalinya, melewati Liverpool dengan 18 gelar juara liga, setelah imbang di Blackburn 1-1 untuk penentuan gelar juara dengan Chelsea. Di Eropa, United meraih medali runner-up setelah dihantam pasukan Pep Guardiola,Barcelona 3-1. Di musim tersebut, United kehilangan Gary Neville, Owen Hargreaves, Paul Scholes dan Edwin van der Sar.
Di musim 2011-12, United mendapat kemenangan besar atas Arsenal 8-2 di Old Trafford, tetapi kekalahan besar dari Manchester City 1-6 di tempat yang sama. Pertandingan melawan Sunderland (1-0 United) adalah sejarah bagi United, khususnya Sir Alex yang telah resmi 25 tahun bersama United. North Stand resmi diganti namanya menjadi Sir Alex Ferguson Stand. Pada musim itu pula United tidak berhasil menembus 16 besar Liga Champions setelah dikalahkan Basel 1-2 di Swiss. United juga tidak berhasil menembus perempat final Liga Europa setelah tumbang oleh Athletic Bilbao. Di domestik, United disapu Crystal Palace 1-2 di kandang di ajang Piala Liga. United juga menelan kekalahan 1-2 di Anfield dalam ajang Piala FA.
Lambang dan warna klub
Ketika nama tim masih Newton Heath, seragam tim berwarna hijau-kuning. Pada tahun 1902, sehubungan dengan pergantian nama menjadi Manchester United, klub mengganti warna seragam mereka menjadi merah (kaos), putih (celana), dan hitam (kaos kaki), yang menjadi standar seragam MU sampai saat ini. Pengecualian ketika tim bertanding di Final Piala FA tahun 1909 melawan Bristol City, kaos berwarna putih berkerah merah berbentuk V. Desain seragam ini kembali digunakan saat 1920-an ketika seragam tim berwarna merah-merah.
Kostum tandang biasanya adalah kaos putih, celana hitam, dan kaos kaki putih, tetap warna lain juga pernah digunakan, termasuk kaos biru bergaris putih yang digunakan dari tahun 1903 sampai 1916, hitam seluruhnya pada 1994 dan 2003 dan kaos biru dengan garis horisontal perak pada tahun 2000. Satu yang paling terkenal, hanya dipakai sebentar, kostum tandang United yang berwarna keseluruhan abu-abu dipakai pada musim 1995–96. Kostum ini tidak digunakan lagi saat MU kalah pada pertandingan pertama pemakaian kostum ini. Pada babak pertama, MU kalah 3-0 dari Southhampton, mereka mengganti seragam yang mereka kenakan menjadi seragam ketiga mereka yang berwarna biru-putih, tetapi pada akhirnya kalah 3–1.
Seragam abu-abu tidak pernah lagi digunakan akibat hasil buruk yang mereka dapat pada pertandingan pertama dengan seragam abu-abu itu. Seragam tandang MU yang terkenal lainnya adalah kaos putih dengan lengan hitam dan garis emas-hitam. Seragam ini adalah seragam terakhir yang didesain Umbro sebelum MU memilih produsen Nike, dan memperingati 100 tahun pergantian nama dari Newton Heath F.C menjadi Manchester United.
Kostum ketiga United berwarna biru, yang dikenakan pemain saat memenangkan Piala Champions 1968. Pengecualian, kostum kuning terang yang digunakan pada awal 1970-an, seragam biru bergaris putih yang dipakai 1996, dan kaos putih bergaris merah-hitam yang dipakai pada 2004. United juga menggunakan kostum ketiga untuk latihan. United mengadopsi warna kostum hitam keseluruhan pada musim 1998–99 dan kaos biru tua dengan pinggiran marun pada tahun 2001 untuk bertanding melawan Southampton dan PSV Eindhoven.
Lambang Manchester United telah diganti beberapa kali, tetapi perubahan yang dilakukan tidak terlalu signifikan. Setan yang terletak di tengah lambang merupakan akar dari julukan "Setan Merah" (The Red Devils), yang muncul di era 1960-an setelah Matt Busby mendengar itu dari fans tim rugbi Salford.
Pada akhir 60-an, lambang setan telah mulai untuk dimasukkan pada brosur program dan syal klub, hingga akhirnya dimasukkan ke dalam lambang klub dengan memegang trisula. Di 1998, logo kembali didesain ulang, kali ini menghilangkan tulisan "Football Club". Perubahan ini bertentangan dengan pendapat suporter, yang memandang bahwa MU semakin menjauhi akar sepak bola dan perubahan ini hanya untuk kepentingan bisnis semata. (Six News and Sport/ Sumber: thedrowranger.wordpress.com)
Eric Cantona, King of the Premier League
Lihat saja para pendukung fanatik ‘setan merah’ yang tiba di Old Trafford, tak jarang sebagian dari mereka bergaya dengan bagian kerah kaos yang ditegakan ke atas, mirip seperti ciri khas Eric Cantona ketika semasa dulu di lapangan hijau. Bagi pendukung Manchester United, penghargaan besar yang diberikan kepada Eric Cantona bukan tentang kasus tendangan kungfu, jumlah gol ataupun empat gelar di Premier League. Sebuah kenyataan bahwa berkat Eric Cantona, Manchester United mampu melewati masa kritis dan menjelma menjadi tim yang disegani di Britania Raya.
Legenda MU ini terlahir dengan nama Eric Daniel Pierre Cantona, di Marseille, Perancis pada tanggal 24 Mei 1966. Lahir dari keluarga imigran, kakek yang berasal dari Sardinia, Itali dan nenek dari Catalan. Albert Cantona dan Eleanore Raurich adalah ayah dan ibunya. Ia juga mempunyai kakak yang bernama Jean-Marie dan adik, Joel. Pemain yang berjuluk “The King Cantona” ini mengawali karirnya di klub SO Caillolais, yang juga melahirkan sejumlah pemain handal seperti Jean Tigana dan Chritophe Galtier. Cantona awalnya mengikuti jejak ayahnya yang berposisi sebagai kiper, namun bakatnya membuat ia bermain lebih kedepan sebagai playmaker.
Sebelum bermain di Manchester United dan memenangkan 4 kali juara Premier League, 2 Piala liga dan 2 Piala FA, dia sempat memperkuat klub Auxerre, Martigues, Marseille, Bordeaux, Montpellier, Nimes dan Leeds United. Pada musim dingin tahun 1992, Alex Ferguson bertemu dengan Eric Cantona, dan ia masih ingat ucapannya dalam hati ketika itu.
“Dia berjalan angkuh, dadanya keluar, mengangkat kepala dan mengamati segala sesuatu seolah-olah dia bertanya, Aku Cantona, seberapa besar kau?? dan apakah kau cukup besar untuk saya?.”
Torehan gol yang dibuatnya di Liga Inggris, mungkin bukan sesuatu yang spektakuler. Namun sejarah di Old Trafford, telah melukiskan tentang kejeniusan dan keanggunan Eric Cantona.
Kejayaan Manchester United berawal telepon dari presiden Leeds United kepada Martin Edwards (presiden komisaris MU saat itu) yang ingin menanyakan apakah MU berminat menjual Denis Irwin. Permintaan Leeds itu langsung ditolak tetapi pembicaraan itu tidak berhenti sampai disana karena ada secarik kertas dari Fergie kepadanya yang meminta untuk menanyakan tentang kemungkinan membeli Eric Cantona.
Martin Edwards cukup kaget karena Eric Cantona merupakan salah satu kunci sukses Leeds United meraih title juara Liga Inggris musim 1991/92. Ternyata menambah kekagetan Martin Edwards, Howard Wilkinson (manajer Leeds) setuju menjualnya dan musim 1992/93, Eric Cantona resmi pindah dari Leeds United ke Manchester United hanya dengan biaya transfer sebesar 1.2 juta pounds. Waktu akan segera membuktikan ini adalah pembelian terbaik Sir Alex Ferguson, yang seperti kata Fergie, Eric Cantona adalah ‘the missing link’ yang selama ini dinantikannya.
Sampai kini alasan Leeds United bersedia menjual salah satu aset terbaiknya Eric Cantona ke rival mereka hanya seharga 1.2 juta pounds masih menjadi sebuah misteri. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pembelian Eric Cantona merupakan sebuah kesalahan besar karena temperamen Cantona yang gampang meledak, tapi Fergie tidak peduli dan demikian juga dengan kebanyakan fans United. Faktanya adalah dengan adanya Cantona berarti MU memiliki salah satu pemain paling berbakat di dunia yang mempunyai kemampuan paling komplet dalam hal merobek gawang lawan. Dan dalam hal ini penilaian Fergie sekali lagi terbukti benar.
Jika Thierry Henry memiliki patung di Emirates, maka Eric Cantona adalah agama di Old Trafford. Bisa dipastikan semua fans Manchester United pasti kenal dengan Eric Cantona yang merupakan salah satu dari ‘dan jasanya sebagai ‘juru selamat’ bagi klub The Red Devils yang sukses dibawanya ke era kejayaan. Pemain depan flamboyan asal Perancis ini sendiri juga akhirnya menemukan ‘rumah’ di klub MU di bawah asuhan Sir Alex Ferguson yang mampu memahami dirinya dan mengoptimalkan kemampuannya di lapangan. Tidak berlebihan kalau sampai kini Eric Cantona sering diidentikkan dengan Manchester United.
Aib Tendangan Kungfu
Siapa yang tidak bergetar mengingat sosok Eric Cantona yang berdiri dengan penuh percaya diri di panggung Old Trafford dengan kerah baju diberdirikan, sebuah trend yang mungkin hanya akan selalu menjadi miliknya pribadi. Dengan imajinasi dan determinasinya, Eric Cantona tidak memerlukan waktu lama untuk membuat seluruh publik Old Trafford jatuh hati padanya. Cantona memberi dimensi lain pada permainan United yang akhirnya mengakhiri penantian panjang mereka dengan memenangkan title juara EPL pada musim itu juga (1992/93), dan diikuti dengan “double” juara EPL dan FA Cup di musim berikutnya (1993/94).
Sayangnya, dibalik semua talenta yang dimilikinya terdapat sisi buruk ‘The King’. Cantona termasuk pemain yang tempramental dan sempat terrlibat perkelahian dengan rekan satu tim. Contohnya, ketika ia melempar sepatu ke wajah Jean-Claude Lemoult saat bermain di klub Montpellier. Dan yang paling fenomenal adalah ketika ia melayangkan tendangan kung fu kepada Matthew Simmons, seorang pendukung Crystal Palace yang mengakibatkannya diskors delapan bulan dan didenda 20 ribu poundsterling.
Dia kemudian mengatakan kepada wartawan dengan pernyataan anehnya. “Ketika burung camar mengikuti kapal nelayan, itu karena mereka berpikir sarden akan dibuang ke dalam laut”
Kejadian di Selhurst Park bulan Januari 1995 saat pertandingan tandang Crystal Palace membuyarkan ambisi MU untuk mendapatkan juara EPL tiga kali berturut di musim 1995/96. Akibat “tendangan kungfu” Cantona pada fans lawan yang mengejeknya, ia harus rela mendapatkan hukuman dilarang tampil selama 8 bulan. Hampir saja MU kehilangan Cantona karenanya tetapi sentuhan emas Sir Alex Ferguson akhirnya sukses meyakinkannya untuk tetap bertahan menghadapi cobaan sulit ini.
Hasilnya adalah pada musim 1995/96, Eric Cantona melakukan comeback saat pertandingan melawan Liverpool dan langsung mencetak gol lewat titik penalti. Tidak itu saja comeback Eric Cantona itu juga disertai dengan ban kapten di tangannya, ya Fergie resmi menunjuk Cantona sebagai kapten baru pasukannya. Hasilnya? MU mengulang “double” dengan memenangkan juara EPL mengandaskan ambisi Newcastle dan juga juara FA Cup berkat gol cantik di menit-menit akhir oleh……… Eric ‘The King’ Cantona. Benar-benar ‘Come Back With A Bang ala The King’.
Tanpa mengesampingkan sisi gelap Cantona yang pernah mencoreng karir sepakbolanya, akan tetapi gaya sepakbola Cantona sangat unik. Acap kali dia terlihat tidak peduli di saat rekan-rekannya sedang berjibaku di lapangan, tetapi tanpa terduga Cantona bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus dan memulai kreasinya dengan berbagai operan jitu, mengatur serangan-serangan berbahaya hampir dengan penuh kesempurnaan bak seorang pemimpin orkestra. Selain seni kreasi nan indah, Cantona juga ditunjang dengan fisik yang atletis dan kuat sehingga seringkali ia mampu mengusir pemain bertahan lawan hanya dengan menggerakkan bahunya.
Walaupun demikian, pesona Eric Cantona yang paling mengesankan adalah berbagai gol indahnya. Ada yang disebut dengan istilah ‘rapier’ (gol yang berasal dari tendangan jarak dekat yang dilakukan dengan sangat elegan) atau ‘bludgeon’ (gol yang berasal dari tendangan keras jarak jauh yang juga salah satu spesialisasi Eric), tapi gol apapun hasilnya sama saja – keindahan tanpa cacat.
Tidak mengherankan kalau dia mendapatkan penghargaan PFA Player of The Year 1994 dan Football Writers Player of The Year 1996, yang merupakan pengakuan untuk kemampuan dan juga persona seorang Eric Cantona. Bahkan Eric Cantona tercatat sebagai pemain asing pertama yang mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik yang sekaligus membuka pintu gerbang bagi banyak pemain Perancis lainnya untuk berlaga di Liga Primer.
Menepi Dari Lapangan Hijau, Incar Kursi Presiden Prancis
Memasuki awal musim 1996/97, Eric Cantona yang sudah berusia 31 tahun terlihat mengalami penurunan performa untuk pertama kalinya! Walaupun akhirnya membaik dan MU kembali membuka peluang untuk menjuarai EPL musim itu. Akan tetapi kegagalan Cantona memberi kontribusi positif untuk timnya yang mengalami kekalahan di semifinal UCL menjadi peringatan pada seluruh fansnya akan kemungkinan berakhirnya era The King Cantona dan memang demikianlah adanya. Seminggu setelah MU memastikan title juara EPL, Eric Cantona mengagetkan para fans dengan mengumumkan rencananya untuk pensiun.
Mungkin suatu tindakan yang logis karena yang paling tidak diinginkan seorang Cantona adalah performanya perlahan tapi pasti menurun seiring bertambahnya usia; ia ingin datang dan pergi tetap dalam keadaan yang sama yaitu dalam kondisi puncak. Jutaan fans United akhirnya hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih dan selamat tinggal sambil meratapi kepergian pemain kesayangan mereka, pemain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan para pemain muda MU yang nantinya akan terkenal dengan sebutan Class of ’92.
Pengaruh seorang Eric Cantona bahkan masih dapat dilihat dari permainan United saat ini terutama dari pemain-pemain Class of ’92 seperti Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs dkk yang memiliki cara bermain yang berbeda dengan rata-rata pemain Inggris yang sebelumnya kental tradisi Kick & Rush. Selain pemain, para fans juga tidak pernah melupakan The King Cantona, mereka masih sering menyanyikan lagu puja-puji tentang Eric Cantona yang sangat popular yaitu ‘Ooh.. Aah.. Cantona’.
Kalau kita ingat kembali tahun 1992, Eric Cantona saat itu dianggap sebagai pemain yang temperamental dan tidak terkontrol, seorang petualang yang tidak pernah betah bertahan lama di sebuah klub. Tapi betapa salahnya anggapan itu karena bersama Manchester United, sihir Cantona sukses menyilaukan semua orang dan menjadikannya salah satu sosok paling berpengaruh pada persepakbolaan Inggris.
Meski popularitasnya cukup menterang di Liga Inggris, namun Eric Cantona adalah salah satu pemain yang belum pernah memperkuat timnas Perancis di Piala Dunia. Perselisihannya dengan pelatih Henri Michel, membuat ia dicoret untuk memperkuat Perancis di Piala Dunia Italia 1990 dan Amerika Serikat 1994. Kesempatan terakhir untuk berlaga di Piala Dunia 1998 pun harus terkubur akibat menjalani skors dari aksi tendangan kung funya saat memperkuat MU.
Setelah pensiun dari timnas Perancis dan MU, ia bermain sebagai Kapten timnas Perancis di ajang Sepakbola Pantai Kronenbourg, Perancis dan ikut mempopulerkan gelaran tersebut. Cantona juga sempat menjadi pelatih dari Timnas Sepakbola Pantai Perancis pada tahun 2005 sampai 2008. Sekarang ia menjabat sebagai Direktur Teknik di klub New York Cosmos semenjak 2011 dan juga bermain sebagai aktor di di film Elizabeth 1998, Looking for Eric 2009, Face au paradis 2010 dan Switch 2012.
Namun Eric Cantona seolah tak pernah berhenti membuat kejutan. “The King” kembali menggeparkan dunia ketika menyatakan ketertarikannya untuk mencalonkan diri menjadi Presiden Perancis pada Januari tahun 2012 sehingga menambah kegairahan pemilu Prancis. Eric Cantona menyoroti isu kebutuhan perumahan rakyat miskin. Ia bahkan menulis kepada wali kota akan mendapatkan 500 tanda tangan yang diperlukan untuk mengikuti pemilihan umum presiden April 2012 lalu. (Six News and Sport/Dari Berbagai Sumber)
Okto Diusir Manajemen, Tibo Masih 'Digantung'
Seperti yang diberitakan bolanews.com, Oktovianus Maniani harus mendapatkan kenyataan pahit. Kepergiannya ke timnas membuat kegeraman Persiram Raja Ampat mencapai puncaknya. Okto mengaku diusir manajemen saat kembali akan bergabung dengan klubnya.
“Saya diusir. Jadi setelah pulang dari Yordania dan setelah lawan Inter, saya bertemu. Saya ingin berbicara baik-baik dan mengakui kalau salah karena tidak izin, tapi saya diusir sama manajemen Persiram. Mereka belum ngasih alasan, komentar, dan surat resmi pemecatan tidak ada," kata Okto maniani seperti ditulis, bolanews.com.
Namun Okto mengaku tak masalah. Ia tidak ingin memikirkan pengusiran itu. "Ngapain dipikirkan. Saya punya kemampuan di sepak bola, kalau cedera atau patah kaki mungkin harus dipikirkan," terangnya.
Dikatakannya, hingga saat ini ia belum memikirkan masa depannya ke klub mana akan berlabuh. Ia mengaku hanya akan memperkuat timnas Indonesia sekaligus mempersiapkan diri dengan terus latihan. "Setelah musim 2011/12 selesai, saya baru akan mencari klub besar. Untuk saat ini sendiri belum ada klub yang mendekati," tandas Okto.
Sementara itu penanggung jawab Timnas, Bernhard Limbong menyatakan kalau PSSI akan membantu Okto. "Semua tentu akan kami fasilitasi, pasti dong. Nanti kami cari klub lain. Untuk saat ini belum tahu, tergantung nanti." Ucap Limbong.
Tak jauh berbeda dengan Okto Maniani, nasib Titus Bonai di Persipura Jayapura masih menggantung. Seperti yang dikatakan Tibo, manajemen tim berjuluk Mutiara Hitam itu sampai saat ini belum menentukan apakah akan memecat atau mempertahankan dirinya setelah meninggalkan klub tanpa izin untuk bergabung dengan tim nasional Indonesia.
Usai bertemu Penanggung Jawab Timnas, Bernhard Limbong di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Jumat (8/6), striker berusia 23 tahun itu menyatakan kalau dirinya belum mengetahui keputusan resmi klub tentang nasibnya.
"Usai pulang dari Palestina saya datang untuk bertemu manajemen, tapi manajemen belum kasih kepastian. Mereka mengatakan akan melakukan rapat lebih dulu. Jadi, saya menunggu saja," terang Tibo.
Tibo menambahkan kalau dirinya tak ingin berspekulasi lebih lanjut tentang masa depannya. Hanya saja, ia mengaku tidak masalah apabila Persipura pada akhirnya mendepaknya. "Saya enjoy saja. Itu tidak masalah. Tapi kan klub juga masih menunggu," sambung Tibo. (Six News and Sport/Sumber: bolanews.com)
Simoncelli, Si Flamboyan Yang Akrab Dengan Maut
Nyawa Simoncelli tak tertolong sejam setelah terjatuh dari motornya. Helm yang dikenakannya terlepas dan bersamaan dengan itu tubuhnya tersambar motor yang ditunggangi Colin Edwards dan Valentino Rossi di tikungan ke-11 pada lomba yang baru memasuki putaran kedua, yang berujung dibatalkannya duel adu cepat ini.
Dikenal flamboyan lantaran gaya rambut ikal 'kriwil', Simoncelli menjadi salah satu pembalap yang disegani di MotoGP. Dia sempat bersitegang dengan pembalap Honda Dani Pedrosa setelah dituding menjadi biang keladi jatuhnya rider asal Spanyol itu di GP Prancis. Akibat insiden tersebut, Pedrosa dipaksa absen sepakan setelah menjalani operasi akibat mengalami patah tulang selangka. Tidak hanya itu, saat masih tampil di kelas 250 cc, Simoncelli menjadi pembalap yang disegani para pesaingnya lantaran dianggap arogan saat di lintasan. Simoncelli dikenal sebagai pembalap yang selalu nekad dan melakukan manuver berbahaya saat diarena balap.
Performa Simoncelli sempat menohok pada beberapa lomba terakhir. Finis di posisi kedua di Phillip Island, pembalap kelahiran Catollica, Italia itu mengawali penampilan apiknya ketika naik ke podium, finis di posisi tiga pada GP Republik Cek, Agustus lalu. Ini merupakan tahun kedua Simoncelli bergabung di MotoGP. Pembalap yang pernah 250 kali juara di kelas 250 cc ini baru saja meneken perpanjangan kontrak dan akan bertahan dengan timnya sampai tahun depan.
Kematian Simoncelli merupakan insiden fatal berujung maut pertama di arena MotoGP yang pertama kali terjadi. Sebelumnya pembalap Jepang, Daijiro Katoh meninggal setelah mengalami kecelakaan serius pada lomba GP Jepang pada 2003. Tragedi ini di luar perkiraan Simoncelli. Dua hari sebelum lomba, pembalap yang mendapat julukan Super Sic' dari penggemarnya ini memprediksi dirinya bakal memenangi balapan. Namun maut tak dapat ditolak, rejeki tak mampu diraih.
Kematian Simoncelli tak pelak memukul sesama rekan pembalap. “Istirahat dengan tenang Simoncelli! Seorang pembalap besar dan pria yang ramah. Turut Berduka bagi keluarga dan rekan, saya tidak akan pernah melupakan hari ini,” kicau pembalap Inggris, Cal Cruthclow dalam status di akun Twitter miliknya. (Arjuna/ Sumber: Tempointeraktif.com)
Seorang ‘Rasul’ di Priok dan Kiamat 2012
Six News and Sport --- DI Facebook, seorang anak muda nekad menyebut dirinya rasul Tuhan. Siapa membacanya mungkin berpikir dia gila. Tetapi bagi Sakti Alexander Sihite, warga Tanjung Priok itu, nubuatnya sebagai rasul kian kuat, justru karena dia ditolak. Bukankah para nabi awalnya kerap dihujat? Nurdin Halid Lalukan Pembohongan Publik
Six News and Sport --- Duta Besar Republik Indonesia di Swiss, Djoko Susilo, menyatakan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Nurdin Halid selama ini telah melakukan kebohongan ke publik.Djoko mengatakan kebohongan yang dimaksud yaitu FIFA pada Juni 2007 lalu sebenarnya sudah melarang Nurdin menjadi Ketua Umum PSSI karena sudah pernah diputuskan bersalah oleh pengadilan dan dihukum. FIFA dalam suratnya ke PSSI juga meminta PSSI harus melakukan pemilihan ulang Ketua Umum PSSI.
"Tapi Nurdin dan petinggi PSSI lainnya menyembunyikan isi surat FIFA itu dan tetap menjabat hingga sekarang. Ini tindakan kebohongan, ini sudah kriminal sebenarnya," kata Djoko kepada Tempo, Kamis (3/3).
Dengan isi surat FIFA yang seperti itu, kata Djoko, seharusnya pengurus PSSI sekarang tidak sah atau telah dianulir FIFA sejak 2007. "Seharusnya kan ada pemilihan ulang, tapi PSSI tidak melakukan itu tahun 2007 lalu," ujarnya.
Djoko mengatakan dengan terkuaknya kebohongan PSSI ini, seharusnya Nurdin dan Nugraha Besoes bisa digugat. "Mereka sudah tahu ada surat FIFA Juni 2007 yang isinya seperti itu, tapi kenapa didiamkan, tidak dilaksanakan? Kenapa pengurus PSSI menyembunyikan adanya perintah pemilihan ulang? Pemilihan 2007 itu tidak sah," kata Djoko.
Menurut Djoko, FIFA selama ini hanya mendapat informasi sepihak dari PSSI saja mengenai sepak bola di Tanah Air dan segala permasalahnnya. FIFA tidak pernah mendengar informasi dari pihak lain. "Pantas saja orang-orang PSSI kalau ke Zurich (Markas FIFA di Swiss) selama ini tidak berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Swiss. Jadi seperti ada yang mereka tutupi, tidak seperti pengurus cabang olahraga lainnya yang koordinasi dengan kami," ujarnya.
Djoko mengatakan pekan depan ia sudah menjadwalkan bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter untuk mengadukan Nurdin cs atas perbuatannya selama ini. "Saya setuju dengan Menpora untuk meluruskan penyimpangan di tubuh PSSI, ini bukan intervensi pemerintah," kata Djoko. (TEMPO Interaktif/ Basuki Rahmad)
Polisi Usut Kasus Penikaman Wartawan Vivanews
Six News and Sport --- Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura Ajun Komisaris besar Polisi Imam Setiawan berjanji akan mengusut tuntas kasus penikaman terhadap wartawan Vivanews, Banjir Ambarita.“Kami saat ini sedang mengumpulkan keterangan dan mencari saksi, karena saat kejadian tidak ada saksi mata. Korban juga tidak menghafal wajah dan pelat nomor kendaraan yang digunakan pelaku,” kata Imam Setiawan kepada Tempo, Kamis (3/3).
Banjir Ambarita ditikam oleh orang tidak dikenal, Kamis dini hari (3/3) sekitar pukul 02.15 WIT.
Imam menjelaskan, telah dibentuk sebuah tim khusus untuk mencari tahu motif dan pelaku penikaman.
Polisi sudah menemui korban di rumah sakit Marthen Indey, tempat Banjir dirawat. Namun karena kondisinya yang cukup parah, belum didapati keterangan seluruhnya.
Menurut Imam, polisi sudah mengumpulkan beberapa bahan yang dapat dipakai untuk penyelidikan kasus tersebut. Imam juga mengatakan sudah menemui korban.
Kepolisian tidak mau menduga-duga motif penyerangan terhadap Banjir akibat pemberitaannya yang mungkin tidak disukai pihak-pihak tertentu. “Kami belum menemukan motifnya apa. Kasusnya masih diselidiki,” ucap Imam.
Untuk membantu korban yang kehilangan banyak darah, kepolisian juga memberi bantuan beberapa kantong darah. “Ya itu hanya untuk membantu karena memang kondisinya cukup parah.”
Seperti diberitakan, Banjir ditikam dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Dok VIII Bawah, Kota Jayapura. Korban ditikam dibagian dada dan perut.
Polisi yang menolongnya kemudian membawa Banjir yang telah kehilangan banyak darah ke RS Marthen Indey. “Daerah Jayapura ini memang sangat rawan, beberapa waktu lalu, anak buah saya juga nyaris ditikam, untuk itu kita harus hati-hati,” kata Imam Setiawan. (TEMPO Interaktif/Jerry Omona)
Diduga Terkait Pemberitaan Wartawan Jayapura Ditikam Orang Tak Dikenal
Six News and Sport --- Kekerasan terhadap pekerja pers di Papua kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korbannya adalah kontributor Vivanews dan Jakarta Globe di Papua, Banjir Ambarita (35), ditusuk orang tak dikenal di Jalan Kelapa Dua Entrop, tak jauh dari Kantor Distrik Jayapura Selatan, Papua. Peristiwa penusukan ini terjadi pada pukul 01.40 Waktu Indonesia Timur, Kamis (3/3) dini hari, saat dirinya sedang mengendarai motor pulang ke rumah, usai mengikuti ibadah malam penghiburan dari kediaman salah satu wartawan yang berduka.
Ada dua luka tusuk di bagian perut kiri dan dada kiri. Kamis (3/3) siang ini, ia harus menjalani operasi dan perawatan di Rumah Sakit Marthen Indey, Aryoko, Kota Jayapura. “Korban harus kami operasi untuk mengetahui, apakah kedua luka tusuk yang dialaminya itu mengenai organ vitalnya di dalam tubuhnya atau tidak. Sebab memang keadaannya bisa saja memburuk,” kata salah satu perawat saat ditemui wartawan, Kamis (3/3) siang.
Menurut Banjir, dirinya sudah merasa diikuti orang tak dikenal saat berada di depan Kantor KPU Kota Jayapura atau dekat Gapura Kantor Walikota Jayapura. “Saya kira motor yang dikendarai dua orang berboncengan tanpa menggunakan helm ini hendak mendahului motor saya. Tapi saat berada di lokasi penikaman, motor pelaku menyalip ke kiri dan orang yang dibonceng tiba-tiba menusuk perut dan dada saya. Saat itu saya menghindar dan teriak minta tolong. Saya lihat penusuknya berambut pendek lurus dan badan agak kurus,” katanya saat ditemui sebelum dibius untuk operasi, Kamis (3/3) menjelang pagi.
Dalam keadaan bersimbah darah, Banjir terus memacu motornya dan menyelamatkan diri ke Kantor Harian Papua Pos. Tapi ditempat itu tidak ada orang. Dalam keadaan masih terluka, dia kembali memacu motornya ke Kantor Polsek Jayapura Selatan yang jaraknya memang tak begitu jauh dari Kantor Harian Papua Pos. “Setelah melapor peristiwa yang saya alami, polisi yang piket membawa saya ke rumah sakit menggunakan mobil patroli mereka,” kata Banjir yang mengaku selama ini tak pernah ada masalah dengan orang atau pihak lain.
Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura, Ajun Komisaris Besar Polisi Imam Setiawan saat datang mengunjungi Banjir di rumah sakit mengaku prihatin akan kasus ini. “Kejadian penusukan ini mengejutkan saya. Kami akan mengungkap pelakunya dengan membentuk tim khusus. Sebab saya kuatir ada stigma masyarakat kaitkan kejadian ini dengan diungkapnya peristiwa asusila tiga oknum polisi yang ditulis wartawan akhir-akhir ini. Tapi saya akan kerja keras mengungkap kasus ini,” katanya ke wartawan, Kamis (3/3) pagi.
Kepada Imam, sejumlah wartawan mengaku diungkitnya masalah asusila tiga oknum polisi, membuat mereka merasa diikuti sejumlah orang, sejak kasus ini dimuat Senin (28/2) lalu. Ketua Aliansi Jurnalis Independen(AJI) Biro Jayapura, Viktor Mambor, menegaskan, prihatin dengan kasus ini. “Bila ini terkait dengan pemberitaan kasus asusila yang diungkap wartawan akhir-akhir ini, sungguh saya sangat prihatin. Untuk itu pihak aparat harus mengungkapkan kasus ini,” kata Victor yang ditemui saat dirinya menjenguk Banjir di Rumah Sakit Marthen Indey, Kamis (3/3) pagi. (TEMPO Interaktif/Cunding Levi)



















