Wartawan Papua Demo Ketua PWI
Para wartawan ini merasa gerah dan tidak nyaman dengan sikap Frans Ohoiwutun, yang kerap mengatasnamakan wartawan kepada sejumlah pejabat maupun calon kepala daerah yang akan mengikuti Pemilukada, untuk keuntungan pribadi maupun kelompoknya.
‘’Jurnalis dalam menjalankan profesinya tidak memihak dan harus independent,
Namun dalam suatu kesempatan Ketua PWI justru menunjukkan sikap memihak terhadap salah satu pasang calon Walikota Jayapura. yang seakan-akan semua wartawan mendukung pasangan calon tersebut. Ini sangat menodai profesi Jurnalis,” ujar Ichwan Susanto, wartawan harian Kompas.
Dalam orasinya para jurnalis ini juga mengecam sikap Ketua PWI Papua yang mengutarakan permohonan maaf kepada Kapolda Papua atas aksi demo yang dilakukan wartawan pada 27 Agustus lalu di halaman Polda Papua, yang mendesak pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus kematian wartawan Merauke TV, Ardiansyah Matra’is. Sementara pada saat aksi itu berlangsung Ketua PWI Papua sendiri tak terlibat dalam aksi demo itu.
Menurut mereka sikap menyampaikan aspirasi adalah hak semua warga Negara termasuk wartwan. Jadi hal itu tidaklah menyalahi aturan yang ada.
“Sikap Ketua PWI Papua yang meminta maaf kepada Kapolda Papua dengan mengatasnamakan wartawan, sangat menciderai profesi jurnalis. Tidak ada yang salah dalam aksi itu, wartawan hanya menunjukkan solidaritas profesi dan menuntut Polisi minta mengusutnya, tapi kok ini malah minta maaf. Ini mengesankan Ketua PWI Papua tidak memiliki kepedulian,’’ kata Gamel, Wartawan Harian Cenderawasih Pos.
Sementara Pemimpin Redaksi Suara Perempuan Papua, Angel Flassy, meminta Ketua PWI Papua jangan menfaatkan keberadaan wartawan untuk kepentingan pribadi atau golongannya dan tidak mengkotak-kotakan wartawan.
“Tidak ada wartawan senior dan junior yang ada adalah wartawan muda dan tua, tolong jangan manfaatkan kami hanya untuk keuntungan pribadi,’’ tegasnya.
“Ketua PWI Papua tidak memiliki media tempat dirinya bekerja, kecuali pernah memimpin Tabloid Mingguan Tifa Papua. “Kalau memang dirinya mengaku sebagai wartawan, lalu dimana media yang di milikinya sebagai tempat bekerja dan menunjukkan dirinya jurnalis,” ujar Hendrik Hay, Wartawan Bintang Papua.
Setelah berorasi, Solidaritas Jurnalis Papua Penggugat Kekerasan kemudian menyerahkan pernyataan tertulis yang berisi antara lain, Ketua PWI Papua harus meminta maaf secara terbuka kepada wartawan di Papua dan menjelaskan kepada calon bupati/walikota, bahwa Ketua PWI tidak memiliki otoritas untuk mengatasnamakan wartawan yang bukan anggota organisasinya, Ketua PWI Papua tidak lagi mengatasnamakan wartawan dalam berbagai kegiatan resmi maupun tidak resmi.
Menyikapi aksi ini Ketua PWI Papua, Frans Ohoiwutun yang didampingi Sekretarisnya, Leo Dapot Siahaan dan Ketua SIWO Papua, Herry Usulu membantah dengan tegas bahwa dirinya pernah mengatasnamakan wartawan atas berbagai kegiatan.
Ia mengaku tidak pernah mengatasnamakan wartawan yang ada di Papua saat menyampaikan permohonan maafnya ke Kapolda Papua. ia juga membantah telah memberikan dukungan kepada salah satu calon pasangan Walikota Jayapura.
Walau demikian dirinya tetap menerima dengan lapang dada secara pribadi atas demo yang ditujukan baginya. Bila memang dituntut untuk meminta maaf, dirinya bersedia meminta maaf secara pribadi.Ia berharap permasalahan yang terjadi saat ini, selesai sampai di Balai Wartawan saja.
“Saya akan mengklarifikasi pernyataan saya kepada Kapolda yang mengatasnamakan wartawan di Papua, begitu juga dengan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Jayapura,” ujar Frans Ohoiwutun. (Arjuna/Six News and Sport)
0 komentar:
Posting Komentar